Hari ini, Senin, 13 Juli 2009, adalah hari pertama para siswa kembali ke sekolah. Ada yg menyambutnya dengan senang hati, mungkin mau pamer tas, sepatu, kaos kaki, baju, celana, dasi baru, atau mungkin akan bertemu dengan teman2 baru. Tetapi ada juga yg menyambutnya dengan penuh keluh kesah.
Sayapun mendapatkan hal yg sama dengan sebagian besar orang tua, yaitu mengantar anak ke sekolah di hari pertama. Oya, anak saya bersekolah di sekolah alam Tanah Tingal, yg jaraknya sekitar 15 KM dari rumah…koq jauh amaaat. Yah kebetulan saja, lokasi sekolah tersebut selalu dilalui oleh istri saya, baik pergi maupun pulang kerja.
Berangkat dari rumah memang sudah kesiangan, jam 07.00 dan sampaidi sekolah jam 08.15 dengan melihat beberapa pemandangan yg sama, yaitu macet pada titik-titik lokasi setiap ada sekolah. Ada 4 tau 5 sekolah yg kami lewati, maka pada titik-titik itulah terjadi kemacetan. Mungkin pemerintah juga harus memikirkan agar hal ini tidak menjadi budaya bangsa ini, macet. Apalagi di hari pertama sekolah.
Sampai di sekolah alam tempat kami menitipkan kepercayaan pendidikan kepada buah hati kami, kami disambut oleh Kepala sekolah dan guru2 yg pada umumnya masih relatif muda (mungkin di bawah umur 30 thn. Tidak lupa penjaga sekolah memberi selamat datang kepada anak kami. Terlihat semua anak2 di sekolah alam yg tidak menggunakan seragam sekolah layaknya sekolah negeri atau swasta, bahkan diperkenankan memakai sendal atau sepatu bot. Hal ini saya dapati pada pakaian para guru di sekolah alam. Mereka memakai pakaian santai atau pakaian sehari-hari. Tidak ada guru yg berpakaian formal seperti dosen yg diminta berpakain harus rapih & berdasi.
Terlihat jelas sekali kontradiksi antara paradigma metode pendidikan yg selama ini kita kenal dan yg coba diterapkan di sekolah alam. Malah saya baca pada salah satu baju anak didik di sekolah alam bertuliskan “School is the best party in town“. Jadi konsep sekolah alam adalah belajar dialam dengan menyenangkan. Jika melhat jadwal belajar para peserta didik di sekolah alam, hampir sama dgn yg ada di sekolah negeri atau swasta lainnya. Hanya saja cara membawakan dan menyampaikannnya yg berbeda. Kalau di sekolah negeri / swasta, belajar itu dimulai dari jam 07.00. Siswa berbaris, lalu masuk ke dalam ruangan kelas yg tertutup, lalu jam 09.00 istirahat, kemudian masuk kembali dan pulang sampai jam 12.00. Sedangkan di sekolah alam kelasnya adalah saung yg terbuka. Sebelum masuk kelas, semua peserta didik mengikuti permainan kecil dulu yg dipimpin oleh guru, atau sekali waktu memberi makan ternak (sapi, kambing, ikan, ayam, bebek, kura-kura). Baru setelah itu berbaris dan masuk ke saung mereka masing-2 untuk belajar. Jam istirahat jam 09.00, lalu belajar di alam atau bermain & belajar secara kelompok.
Lalu sambil menunggu, saya berdiskusi dgn kepala sekolah serta beberapa staf sekolah alam tsb. Banyak hal yg saya dapat ambil hikmah dari diskusi tersebut. Diantaranya yg saya ingat adalah :
- buat suasana belajar bagi anak menyenangkan
- biarkan mereka mengeksplorasi keingintahuan mereka sendiri
- orang tua adalah media, sahabat bagi anak
Masih banyak hal yg menarik, salah satunya adalah, bahwa didalam setiap jiwa manusia dewasa sekalipun ada jiwa anak-anak. Dan setaip anak adalah unik, sekalipun anak kembar. Hal ini saya rasakan pada anak saya. Dimana anak saya pernah merasakan sekolah di sekolah formal pada umumnya. Tapi malah setiap hari anak saya merasa ’stress’ kalau berangkat ke sekolah. Dia tunjukan dengan cara menagis dan tidak mau masuk ke dalam kelas. Walaupun sudah kita bujuk & rayu. dan ternyata anak saya hanya bertahan sekolah di sekolah formal (sekolah swasta pada umumnya) hanya 1 bulan. Selebihnya mogok tidak mau sekolah. Lalu kami sebagai orang tua tentunya harus mencarikan solusi bagi anak kami. Memang, walaupun seorang anak kecil sekalipun, pikiran & perasaannya tidak sekecil tubuhnya. Dia sama seperti orang dewasa juga. Hanya saja anak kecil belum bisa menyampaikan secara verbal. Yg hanya dia bisa menangis & berdiam. Atau malah ada yg sebaliknya. Di sekolah dia menjadi anak emas, baik, pendiam. Tetapi di rumah dia menjadi anak yg nakal, cerewet. itu semua adalah masalah psikolog anak.
Sebelum pulang sekolah, anak-anak melakukan ibadah sholat berjamaah dan makan siang bersama. Kemudian berdo’a. Dalam perjalanan pulang saya menanyakan kesan hari pertama kepada anak saya. Dia menjawab: “enak ayah”…..tapi sebelum pulang, malah anak saya tidak mau pulang, karena disana banyak permaianan anak (dolanan bocah), kolam renang, flying fox, danau, kano, resto, futsal yg semuanya bolah digunakan oleh seluruh siswa sekolah alam tersebut.
anonymous Pendidikan, sekolah