Sebuah artikel oleh Fatih Syuhud, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu S2 di India :

Sekitar dua tahun lalu saya bertemu dg seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia (yg berarti PNS) yg hendak mengambil S3 di India. Saya banyak ngobrol banyak tentang berbagai hal, terutama yg bisa dibagi di sini adalah kehidupannya sebagai dosen.

Dia sudah bergelar master (MA) di luar negeri, menikah dan punya anak dua yg keduanya sudah sekolah SD. Karena gaji yg di PTN sangat pas-pasan (istilah eufemisme untuk kekurangan), dia juga mengajar di PT swasta di kota lain. Dari mengajar sana sini, hidupnya dan kebutuhan keluarga relatif tercukupi walau dg standar hidup yg sangat ketat. Masalahnya, kalau sekarang sudah pas-pasan, bagaimana dia nantinya dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya saat mereka memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi yg biayanya makin lama makin mencekik leher?

Saya terharu mendengar ceritanya bahwa kedua anaknya yg sekolah SD tidak pernah dikasih uang saku buat jajan, mereka cuma dibekali kue buatan ibunya supaya ada camilan dan tidak terlalu iri melihat teman-temannya yg bisa jajan di sekolah. Jadi, kesimpulan dia, dalam soal uang saku, anak dia kalah sama anak TUKANG BENGKEL.

Kalah sama tukang bengkel? Saya terhenyak. Seorang sarjana yg berpendidikan S2 luar negeri bisa kalah cari uangnya dg tukang bengkel yg mungkin cuma lulusan SMA atau jebolah S1?! Saya kaget walaupun seperti biasa wajah saya tetap datar tanpa ekspresi saat mendengarkan cerita itu.

Akhir cerita, saya menyarankan pada rekan di atas untuk membuka usaha kecil-kecilan seperti buka toko atau warung untuk menjamin kehidupan anak-anaknya kelak.

Sementara itu, seorang rekan yg baru rampung pendidikan S2-nya waktu saya tanya rencana ke depannya menjawab dg lantang: “Mau jadi PNS!” Ketika saya tanya alasannya, dia menjawab, “Ikut pesan orang tua.”

Dua ilustrasi dua kisah nyata di atas menggambarkan sebuah fenomena menyedihkan dan siklus salah kaprah. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan orang tua kita yg selalu menginginkan yg terbaik buat anaknya. Saya lebih cenderung menyalahkan si anak yg walaupun sudah berjenjang S2 tidak bisa kritis dalam memilih dan menentukan pilihan terbaik buat dirinya sendiri.

Mujazin, yg baru saja lulus S2 linguistics di Hyderabad University, bertanya pada saya apakah saya tidak tertarik untuk jadi dosen. Berikut jawaban saya dan sekaligus opini saya dalam soal ini:

1. Bagi saya menjadi dosen itu sebuah kewajiban. Salah satu cara mengaplikasikan ilmu yg didapat seorang sarjana S2 ke atas adalah dg mengajar. Di samping dg menulis buku, dll. Namun, saya menganggap dosen itu bukan pekerjaan. Dosen adalah sarana pengabdian dan sumbangsih kita pada (anak) bangsa melalui penyebaran pengetahuan yg kita dapat.

Memang, dosen mendapat gaji, tapi seorang sarjana S2 dan S3 yg mengandalkan kebutuhan hidupnya dari gaji dosen bagi saya adalah naif. Dan dalam konteks sosial, ini akan mengurangi motivasi yg lain untuk melanjutkan studi lebih tinggi. Anak tukang bengkel tadi jelas tidak akan termotivasi melanjutkan studi sampai S2 karena dilihatnya bapaknya yg cuma lulusan SLTA lebih pintar cari duit dibanding ayah temennya yg dosen.

2. Karena dosen atau peneliti itu bukan kerja, melainkan sarana mengabdikan ilmu, maka pemenuhan kebutuhan hidup harus melalui cara yg dilakukan seperti tukang bengkel tadi, tentunay kalau bisa lebih pintar lagi. Masak kalah sama tukang bengkel, sih? Berbagai usaha apa saja yg halal yg dapat memenuhi kebutuhan wajar dan kalau bisa berkelebihan untuk juga dapat menetes pada orang-orang di sekitar kita yg membutuhkan.

Realita tersebut rasa-rasanya sudah kita ketahui secara umum. Begitu sulitnya seorang dosen untuk mencukupi kebutuhannya, akhirnya ia harus mencari pekerjaan lainnya, dan akhirnya tidak jarang akhirnya jadi mengorbankan kuliah dan waktu untuk mahasiswanya, bahkan terkadang para dosen tersebut jadi lupa akan tujuan penelitian yang seharusnya diusung. Rasa-rasanya Indonesia perlu sebuah mekanisme sistem pendidikan yang lebih baik, agar pendidikan bangsa ini tidak hanya berkutat di tari poco-poco saja (maju selangkah – mundur selangkah). Salam!